Monday, August 4, 2014

AYAH, AKU SUDAH LELAH

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran.
“Ayah.. Oh ayah..”
“Ada apa?”
“Aku lelah, sangat lelah.. aku lelah karena aku belajar mati-matian untuk mendapatkan nilai bagus, sedangkan temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek... aku mau menyontek saja! Aku lelah. Sangat lelah ayah.”
Lalu anak itu terus melanjutkan keluhan pada ayahnya.
“Aku lelah karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedangkan temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja!... aku lelah..sangat lelah...”
“Hmm.”

Aku lelah karena aku harus menabung, sedangkan temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung... aku ingin jajan terus ayah!”
“Oh begitu?’’
Ayahnya datar menanggapi.
“Aku lelah, sangat lelah karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedangkan temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.”
“Ya...”
“Aku lelah, sangat lelah karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedangkan teman-temanku seenaknya saja bersikap kepadaku.”
“Hmm...”
“Aku sudah lelah ayah, aku lelah menahan diri... aku ingin seperti mereka... mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah!”
Sang anak mulai menangis. Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya.
“Anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu padamu.”
Lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur dan ilalang.
Sang anak pun mulai mengeluh.
“Ayah mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang... aku benci jalan ini ayah.”
Sang Ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bungan yang cantik, dan pepohonan yang rindang.
“Wwwaaaaahhhh.... tempat apa ini ayah? Aku suka tempat ini!”
Sang ayah hanya diam, kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah,” ujr sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
“Anakku, tahukah kamu mengapa disini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah...?”
“Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
“Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga disini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu.”
“Ooh... berarti kita orang yang sabar ya ayah?” Alhamdulillah”
“Nah, akhirnya kamu mengerti”
“Mengerti apa? Aku tidak mengerti ayah”
“Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran  dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi.”
Sang ayah menarik nafas dam, memberi waktu anaknya mencerna kalimatnya.
“ Bukankah kamu harus bersabar saat duri melukai kakimu, kamu harus bersabar melewati ilalang dan kamu pun harus bersabar saat dikelilingi serangga... dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah... seandainya kamu tidak sabar, apa yang kamu dapat? Kamu tidak akan mendapat apa-apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku.”
“Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar”
“Ayah tahu, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kamu tetap kuat... begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus ada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi... ingatlah anakku ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus berdiri sendiri. .. maka jangan pernah kamu menggantungkan hidupmu pada orang lain.”
“Begitu ya ayah?”
Jadilah dirimu sendiri ... seorang pemudi muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya... maka kamu akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang... maka kamu tahu akhirnya kan?”
“Ya ayah, aku tahu... aku akan mendapatkan syurga yang indah yang lebih indah dari telaga ini.. sekarang aku mengerti... terimakasih ayah. Aku akan tegar saat yang lain terlempar.”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

“Seorang ayah selalu mengajari anak-anaknya
Tentang arti sebuah perjuangan hidup,
Tanpa menggurui, namun menjalaninya bersama”


No comments:

Post a Comment