Thursday, July 17, 2014

Cangkir Cantik

Kisah ini sering terdengar di telinga. Untukku kisah ini sangat menyentuh. Tergeraklah jemari untuk bisa kembali menceritakan kisah ini disini. Mungkin aku belum secantik cangkir ini. Tapi keinginan untuk bisa seperti cangkir cantik ini selalu ada disini, *nunjuk ke dada* didalam qolbu. Selamat membaca :)
Disuatu pagi ada sepasang kakek dan nenek sedang memasukki sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir “Lihat cangkir itu…!” kata si nenek. “Wah kau benar, cangkir itu sangat indah,” ujar si kakek menanggapi.
Merekapun lalu mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang tersebut berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, sebelumnya perlu diketahui bahwa aku dulunya tidaklah secantik ini. Sebelum menjadi sebuah cangkir, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin keramik dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi.
Tapi orang itu masih saja meninjuku, meremasku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan ada yang lebih buruk lagi, ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.
Tapi orang ini berkata “belum !” Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum, setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnaiku dengan bara api. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.
Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.
Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku ada sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku yang sekarang.
Kawan, seperti inilah kita dibentuk. Sakit, lelah, penderitaan, rintangan, dan banyak air mata yang kita teteskan. Tetapi inilah satu-satunya jalan untuk mengubah kita menjadi cantik.
Dalam perjalanan panjang kehidupan kita, berbagai macam, ujian, cobaan, penderitaan, dan kesengsaraan yang harus kita lalui. Namun, pada saatnya nanti semua itu akan terbayar dengan sebuah keindahan. Dan apabila kita sedang menghadapi ujian hidup, jangan pernah untuk berkecil hati, karena itu adalah rangkaian proses yang membentuk kita menjadi lebih baik.

No comments:

Post a Comment